Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
Warta & Media
Rabu, 8 September 2010
, Selamat datang di website P2KP!
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: warta-at-pnpm-perkotaan.org.

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, minimal 1 halaman (penuh), maksimal 4 halaman.

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.

Warta:  Artikel
Kirim | Daftar | Arsip | Cetak
Magetan, 28 Juli 2010
Belajar dari Keberhasilan Grameen Bank

Sudahkah LKM/BKM didampingan kita berdaya? Atau, sudah berapa jumlah LKM/BKM yang berdaya dan mandiri? Dua pertanyaan itu yang kerap dilontarkan, baik oleh pelaku internal PNPM Mandiri maupun pelaku eksternal.

Berdasarkan penilaian dari indikator yang sudah ada, jangankan LKM/BKM yang baru berdiri dua atau tiga tahun, yang sudah sepuluh tahun berdiri dan terus didampingi pun ternyata masih dipertanyakan keberdayaannya. Sementara, kalau boleh membandingkan dengan Bangladesh, yang juga merupakan negara miskin di Asia, kita bisa berkaca dari program Grameen Bank yang dipelopori oleh Prof Muhammad Yunus. Berkat kontribusi Grameen Bank dalam mengentaskan kemiskinan di negaranya, beliau akhirnya dianugerahi Nobel Perdamaian di tahun 2006.

Dalam situs mikrobanker.wordpress.com dijelaskan bahwa konsep perbankan konvensional mampu didekonstruksi oleh Yunus, sehingga mampu mewujudkan berdirinya bank yang dikhususkan melayani kaum miskin. Secara nyata, Yunus mampu mendobrak "menara gading" dunia akademis pendidikan tinggi serta keangkuhan model ekonomi yang semata menghamba pada kapital/pemodal, tetapi menafikkan fundamen kemanusiaan.

Tanpa banyak berwacana, apalagi sekadar menuai popularitas dan benefit politis, ia terjun langsung menyentuh kaum papa yang selama ini termarginalkan. Konsep perbankan yang dikembangkan Grameen Bank memang menjadi antitesis dari konsep perbankan konvensional. Jika perbankan konvensional hanya "berani" memberikan kredit pada nasabah yang memiliki uang, sebaliknya dengan bank pedesaan yang dirintis Yunus.

Bank Desa yang dikembangkan oleh Yunus ini adalah bank yang khusus melayani rakyat miskin. Mereka juga tidak harus dipusingkan dengan kelengkapan berbagai dokumen—setumpuk kertas yang harus diisi. Yang paling penting, mereka tidak perlu memberikan agunan (collateral). Bagaimana mau memberikan agunan, barang kecil pun mereka tidak punya. Yunus bahkan berani menjamin bahwa kredit yang diberikan untuk rakyat miskin lebih terjamin pengembaliannya (repayment) dibandingkan dengan kredit untuk orang kaya.

Tak pelak, julukan sebagai ”banker of the poor” alias "bankir untuk kaum jelata" disandang pria yang menikah dengan Afrozi Yunus, seorang peneliti di Universitas Manchester, dan dikaruniai dua anak ini. Bahkan, ia sendiri sebelumnya tak pernah membayangkan, program kredit mikro yang dikembangkannya melalui Grameen Bank mencapai keberhasilan seperti saat ini. Jumlah nasabahnya mencapai 7,4 juta kaum miskin di seluruh Bangladesh dengan jumlah pinjaman mencapai Rp6miliar dolar AS. Tingkat pengembalian pun mencapai 99 persen.

Pendampingan secara ketat adalah kunci kepastian tingkat pengembalian pinjaman. Bank menggunakan sistem “kelompok solidaritas”. Kelompok informal kecil ini mengajukan pinjaman bersama dan sama-sama menjadi penjamin pengembalian kredit. Mereka bersama-sama pula menjaga dan memberdayakan pinjaman, sehingga menjadi sumber produktif bagi kehidupan mereka. Di atas semua itu, kepercayaan (trust) adalah inti dari keberhasilan konsep pemberdayaan masyarakat miskin melalui program kredit mikro.

Konsep Grameen Bank mulai dicoba untuk diterapkan di Indonesia meski belum banyak yang mampu mengaplikasikannya. Salah satu kabupaten di Indonesia yang sudah mencoba menerapkan konsep tersebut dan mampu mendirikan Bank Desa adalah Kabupaten Tanah Bumbu. Dalam situs resminya (www.tanahbumbukab.go.id) dijelaskan bahwa Pemkab Tanah Bumbu punya satu program, dimana setiap desa sekarang punya bank desa syariah, atau yang biasa disebut Lembaga Keuangan Mikro Syariah Baitul Maal Wat Tamwil (LKMS-BMT) Bersujud.

Sebelum program ini dilaksanakan, awalnya mereka merekrut delapan orang lulusan SMA yang statusnya pengangguran, terdiri dari tiga orang tua dan lima anak muda. Kemudian mereka dilatih di Batulicin dan Banjarmasin. Setelah pulang, mereka launching dengan diberi modal sebesar Rp13juta. Kemudian mereka menjual selembar saham sebesar Rp100.000 sebagai sebuah keputusan dimana di bank itu orang desa-lah yang membeli saham. Bahkan, kini ada yang memiliki modal usaha hingga mencapai Rp1miliar. Sekarang, Bank Desa yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu telah mempunyai 850 pegawai bank yang bekerja di desa. Mereka mempunyai pendapatan antara Rp500 ribu - Rp1,5 juta.

Di PNPM Mandiri Perkotaan sebenarnya konsep yang dikembangkan juga mirip dengan Grameen Bank ini. Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) melalui ujung tombaknya, yaitu Unit Pengelola Keuangan (UPK), diharapkan mampu menjadi sebuah lembaga keuangan yang bisa diakses oleh kaum miskin. Sasaran LKM ini juga sama dengan Grameen Bank-nya Muhammad Yunus, yakni orang miskin.

Di PNPM Mandiri, masyarakat juga tidak harus dipusingkan dengan kelengkapan berbagai dokumen, hanya beberapa lembar kertas saja yang harus diisi. Masyarakat pun tidak perlu memberikan agunan (collateral) karena sesuai dengan apa yang pernah disampaikan Yunus bahwa bagaimana mau memberikan agunan, barang kecil pun mereka tidak punya. Di PNPM Mandiri juga dilakukan pendampingan secara ketat guna memastikan tingkat pengembalian pinjaman bisa lancar.

Kalau di konsep Gramen Bank menggunakan sistem ”kelompok solidaritas” sebagai syarat untuk bisa mengajukan pinjaman ekonomi bergulir yang dikeluarkan oleh LKM, melalui UPK ini juga harus membentuk kelompok yang dinamakan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Anggota KSM mengajukan pinjaman bersama-sama dan semua anggota juga menjadi penjamin pengembalian kredit dengan sistem tanggung renteng. Mereka bersama-sama pula menjaga dan memberdayakan pinjaman sehingga menjadi sumber produktif bagi kehidupan mereka.

Kepercayaan (trust) adalah inti dari kelancaran pinjaman dari KSM-KSM tersebut, yang diharapkan akan mencapai keberhasilan konsep pemberdayaan masyarakat miskin melalui PNPM Mandiri. Kejujuran adalah nomor satu dan pengorbanan bagi manusia lainnya, merupakan kredo yang tak sekadar wacana, tetapi dijalankan dengan nyata.

Kalau kita bandingkan konsep PNPM Mandiri Perkotaan yang mirip dengan konsep Grameen Bank, sementara PNPM Mandiri Perkotaan—dulu bernama P2KP—baru mulai berjalan di Indonesia sejak tahun 1999. Sehingga, kalau dihitung sampai dengan saat ini baru berumur sekitar 11 tahun. Jika dikawal dengan ketat bukan tidak mungkin Kredit Ekonomi Bergulir PNPM Mandiri Perkotaan bisa sesukses Grameen Bank. (Ahmad S. Khan, Faskel CD TF Jatim 71, Korkot 10 Magetan, OC-6 Provinsi Jawa Timur, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

(dibaca 174)
Kembali ke atas
 
Tim pengelola website
PNPM Mandiri Perkotaan
Jl. Penjernihan 1, No. 19 F,
Pejompongan - Jakarta Pusat 10210
Telp: (021) 70912271, (021)-70952271
Home | Warta | Media | Best practice | Forum | Pustaka | Aplikasi | Laporan | F A Q | Kontak
Total pengunjung hari ini: 715, akses halaman: 817, pengunjung online: 57, waktu akses: 0,016 detik.